Home > Teknologi Pendidikan > Teknologi Pembelajaran (Instructional Technology) sebagai solusi masalah belajar.

Teknologi Pembelajaran (Instructional Technology) sebagai solusi masalah belajar.

M Ridwan Sutisna. September 2011.

 

 

 

 

Setiap sekolah memiliki beban untuk dapat mendidik siswa-siswinya agar dapat setidaknya melewati proses belajar dengan baik yang ditandai dengan tercapainyastandar kompetensi yang telah ditentutkan. Proses tersebut dapat diukur melalui proses ujian akhir semester dan ujian nasional.
Dengan adanya perbedaan prestasi akademik siswa, sekolah memiliki tanggung jawab untuk dapat membawa seluruh siswanya-siswinya agar dapat mencapai target lulus ujian akhir semester dan ujian nasional. Bagi siswa yang memiliki prestasi akademik tergolong baik hal tersebut mungkin bukanlah suatu masalah besar, selain memiliki kepercayaan diri lebih baik, berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan oleh sekolah secara berkala melalui ulangan harian, ujian tengah dan akhir semester, terbukti bahwa mereka memiliki kemampuan yang cukup baik.
Permasalahannya ada pada golongan siswa yang lain, yang tidak memiliki prestasi belajar yang cukup baik berdasarkan pengukuranb yang dilakukan oleh pihak sekolah. Siswa-siswa yang tidak menonjol tersebut biasanya kurang mendapatkan perhatian lebih dari pihak sekolah yang pada umumnya lebih memperhatikan siswa berprestasi. Hal tersebut tercermin dari banyaknya sekolah yang memiliki kelas unggulan dimana siswa-siswa berprestasi lebih dalam bidang akademik dikumpulkan dan diberi fasilitas lebih baikdari mulai ruang kelas khusus hingga penugasan guru yang dianggap terbaik.
Siswa-siswa yang secara akademik dianggap kurang memiliki prestasi akademik yang baik atau cenderung “jeblok” apalagi jika mereka berasal dari keluarga yang kurang mampu dan sama sekali tidak memiliki prestasi non-akademik mungkin akan terlupakan. Kelompok siswa ini akan semakin tertinggal dan terancam mendapatkan titel “tidak naik kelas” atau “tidak lulus”. Sehingga dikhawatirkan akan mengancam masa depan mereka juga.
Sekolah mengah memiliki tanggung jawab lebih dari sekedar meluluskan siswanya pada ujian nasional. Sekolah mengah juga berkewajiban mempersiapkan siswa-siswanya untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi (sekolah menengah atas atau perguruan tinggi), selain juga mempersiapkan mereka yang tidak melanjutkan jenjang pendidikannya agar mereka memiliki kemampuan yang berdaya guna di masyarakat sehingga mampu bertahan hidup.
Program wajib belajar sembilan tahun dari pemerintah salah satunya yang membuat beberapa sekolah menengah terutama tingkat pertama (SMP) menyadari bahwa sebagian siswanya mungkin saja sudah tidak berniat melanjutkan ke jenjang SMA (sekolah mengah atas). Oleh karena itu, hanya meluluskan siswanya dalam ujian nasional saja masih dianggap belum cukup oleh beberapa sekolah.
Setiap sekolah yang memiliki kesadaran untuk menghadapi masalah tersebut berusaha mengatasinya dengan melakukan berbagai alternatif perlakuan. Beberapa diantaranya yaitu dengan mengaktifkan sistem remedial, memberikan les tambahan di luar jam belajar, menyelenggarakan pengayaan untuk persiapan ujian nasional dan lain sebagainya. Sebagaimana disampaikan oleh Abin Syamsudin (2003) bahwa untuk mengantisispasi dan mengurangi kemungkinan terjadinya permasalahan yang berkaitan dengan perilaku siswa adalah dengan memberikan strategi yang tepat baik kepada siswa-siswa baik yang berprestasi/cepat (the accelerated students) maupun yang kurang berprestasi/lambat (slow learners).
Pada kawasan teknologi pembelajaran, strategi pembelajaran termasuk ke dalam kawasan desain, menurut Barbara B. Seels dan Rita C. Richey (1994) kawasan desain memiliki tujuan untuk menciptakan strategi dan produk pada tingkat makro seperti program dan kurikulum, dan pada tingkat mikro seperti pelajaran dan modul. Artinya terdapat banyak cara baik pada tingkat makro maupun pada tingkat mikro yang dapat dilakukan sebagai usaha untuk mengatasi masalah kesulitan belajar ini.
Teknologi pendidikan atau teknologi pembelajaran secara singkat adalah penyelesai masalah dengan cara penelitian dan praktik terutama dengan jalan pendidikan. Cara apapun, dimanapun dan untuk tujuan apapun. Tapi lebih luas lagi,
dalam kawasan teknologi pendidikan menurut definisi AECT (Association for Educational Communications and Technology) tahun 1994, teknologi pembelajaran meliputi desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, dan evaluasi. kelima kawasan tersebut merupakan lahan eksploitasi bagi setiap pendidik untuk dapat menyelesaikan berbagai masalah dalam pembelajaran. misalnya, masalah pembelajaran diselesaikan dengan menDESAIN ulang rencana pembelajaran, melakukan PENGEMBANGAN metode atau strategi pembelajaran, PEMANFAATAN media atau alat bantu pembelajaran (teaching and learning aids), memperbaiki PENGELOLAAN atau manajemen pembelajaran, atau melakukan evaluasi terhadap pembelajaran yang telah dilakukan.
Pada dasarnya setiap masalah haruslah diselesaikan, termasuk masalah belajar. oleh karenanya, teknologi pembelajaran menyajikan berbagai alternatif pemecahan masalah belajar melalui kawasan-kawasan teknologi pembelajaran. lagi pula, tidak ada masalah yang tidak ada solusinya bukan?

#belajarmenulis.menulisapayangpengenditulis

#sangat.menerima.kritik.&.saran

DAFTAR BACAAN

Abin Syamsudin Makmun (2003). Psikologi Kependidikan.

Barbara B. Sheels dan Rita C. Richey, Teknologi Pembelajaran Definisi dan Kawasannya, AECT (1994) diterjemahkan oleh Dewi S Prawiradilaga, Raphael Rahardjo dan Yusuf Hadi Miarso.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: