Home > Komunikasi, Teknologi Pendidikan > TELEVISI PENDIDIKAN (BAGIAN 2)

TELEVISI PENDIDIKAN (BAGIAN 2)

TELEVISI PENDIDIKAN, KARAKTERISTIK DAN SEJARAH PERKEMBANGANNYA DI INDONESIA

Muhamad Ridwan Sutisna, dkk
DEFINISI
Ada beberapa istilah yang berkaitan erat dengan televise pendidikan diantaranya adalah Instructional Television, Educational Television, dan School Television. Instructional Television atau televisi pembelajaran secara umum berarti pada program yang didesain untuk kepentingan suatu pembelajaran yang spesifik. Contohnya adalah program interaktif SMUN (Solusi Menghadapi Ujian Nasional) yang disiarkan oleh TVE dan TVRI atau program Kuliah Universitas Terbuka yang pernah ditayangkan oleh TPI.

Sedangkan Educational Television atau televisi pendidikan mengandung makna yang lebih luas, yang mana akan mencakup penggunaan untuk pendidikan program-program yang memberikan informasi yang relevan, terlepas dari apakah itu dirancang khusus untuk program studi tertentu contohnya adalah Discovery Channel, National Geographic dan program-program TalkShow.

School Television atau televisi sekolah adalah sebuah bentuk pengembangan televisi pembelajaran untuk dipergunakan di sekolah tertentu.

KARAKTERISTIK
Secara umum televisi pendidikan yang digunakan sebagai media pembelajaran mewarisii kelebihan media pembelajaran secara umum. Diantaranya adalah:
1. Mampu memberikan rangsangan yang bervariasi kepada otak kita sehingga otak mampu berfungsi secara optimal.
2. Mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh peserta didik.
3. Melampaui batas ruang kelas.
4. Memungkinkan interaksi langsung antara peserta didik dengan lingkungannya.
5. Menghasilkan keseragaman pengamatan.
6. Membangkitkan keinginan dan minat baru.
7. Membangkitkan motivasi dan merangsang untuk belajar.
8. Memberikan pengalaman yang menyeluruh dari suatu objek abstrak atau kongkrit.
9. Memberikan kesempatan untuk belajar mandiri.
10. Meningkatkan kemampuan keterbacaan baru.
11. Meningkatkan efek sosialisasi.
12. Meningkatkan ekspresi diri.
Secara khusus televisi memberikan penyajian yang sama dengan media film (motion pictures), perbedaannya dengan film yaitu televisi memiliki proses elektronis dalam merekam, menyalurkan dan memeragakan gambar dan suara. Oleh karena itu, televisi memiliki karakteristik yang sama dengan media film sebagai media yang paling canggih dengan kemampuannya yang dapat menyampaikan lima bentuk informasi yaitu gambar, garis, symbol, suara dan gerakan.
Beberapa karakteristik positif media televisi adalah:
1. Memberikan pesan yang dapat diteima secara lebih merata oleh siswa.
2. Sangat bagus untuk menerangkan suatu proses.
3. Mengatasi keterbatasan ruang dan waktu.
4. Lebih realistis, dapat diulang-ulang dan dihentikan sesuai dengan kebutuhan.
5. Membrikan kesan yang mendalam, yang dapat mempengaruhi sikap siswa.

Televisi dapat diklasifikasikan dalam beberapa jenis, diantaranya: televisi terbuka (open boardcast television), televisi siaran terbatas/TVST (Cole Circuit Televirion/CCTV), dan video-cassette recorder (VCR).

1. Media Televisi Terbuka
Media televisi terbuka adalah media audio-visual gerak yang penyampaian pesannya melalui pancaran gelombang elektromagnetik dari satu stasiun, kemudian pesan tadi diterima oleh pemirsa melalui pesawat televisi.

Kelebihan Media Televisi Terbuka
a. Informasi/pesan yang disajikannya lebih aktual.
b. Jangkauan penyebarannya sangat luas.
c. Memberikan pesan yang dapat diterima secara lebih merata oleh siswa.
d. Sangat bagus untuk menerangkan suatu proses.
e. Mengatasi keterbatasan ruangdn waktu.
f. Memberikan kesan yang mendalam, yang dapat mempengaruhi sikap siswa.

Kelemahan Media Televisi Terbuka
a. Programnya tidak dapat diulang-ulang sesuai kebutuhan.
b. Sifat komunikasinya hanya satu arah.
c. Gambarnya relatif kecil.
d. Kadangkala terjadi distorsi gambar dan warna akibat kerusakan atau gangguan magnetik.

2. Media Televisi Siaran Terbatas (TVST)
TVST atau CCTV adalah media audiovisual gerak yang penyampaian pesannya didistribusikan melalui kabel (bukan TV kabel). Dengan perkataan lain, kamera televisi mengambil suatu objek di studio, misalnya guru yang sedang mengajar, kemudian hasil pengambilan tadi didistribusikan melalui kabel-kabel ke pesawat televisi yang ada di ruangan-ruangan kelas.
Kelebihan televisi siaran terbatas ini dibandingkan dengan televisi terbuka diantaranya adalah komunikasi dapat dilakukan secara dua arah (hubungan antara studio dan kelas dilakukan melalui intercom), kebutuhan siswa dapat lebih diperhatikan dan terkontrol. Sedangkan kelemahannya adalah jangkauannya relatif terbatas.

3. Media Video Cassette Recorder (VCR)
Berbeda dengan media film, media VCR perekamannya dilakukan dengan menggunakan kaset video, dan penayangannya melalui pesawat televisi; sedangkan media film, perekaman gambarnya menggunakan film selluloid yang positif dan gambarnya diproyeksikan melalui proyeksi ke layar.
Secara umum, kelebihan media VCR sama dengan kelebihan yang dimiliki oleh media televisi terbuka. Selain itu, media VCR ini memiliki kelebihan lainnya yaitu programnya dapat diulang-ulang. Akan tetapi kelemahannya adalah jangkauannya terbatas.

Pendapat lain menyatakan bahwa penyiaran program TV pendidikan dapat digolongkan menjadi siaran yang bersifat umum dan khusus. Siaran yang bersifat umum adalah program pendidikan yang dapat diikuti oleh semua golongan pemirsa. Contoh siaran yang bersifat umum misalnya adalah program discovery, features tentang seni dan budaya, dan sejumlah program talk show dengan topik yang sangat bervariasi. Program berbentuk talkshow dan features yang belakangan ini banyak ditayangkan pada sejumlah stasiun TV swasta diharapkan dapat memperluas wawasan pemirsa tentang bidang ilmu dan pengetahuan tertentu.
Siaran TV pendidikan yang bersifat khusus yang sering disebut sebagai TV pembelajaran (instructional television) adalah siaran TV yang sengaja dirancang untuk pemirsa atau khalayak tertentu. Contoh siaran pendidikan adalah pelajaran sekolah dan siaran perkuliahan Universitas Terbuka (UT) yang pernah ditayangkan oleh Televisi Republik Indonesia (TVRI) dan Televisi Pendidikan Indonesia (TPI), atau yang sekarang ditayangkan oleh TVE. Siaran ini dirancang secara khusus untuk mengkomunikasikan materi ajar kepada siswa sekolah dan mahasiswa yang mengikuti program pendidikan jarak jauh.
Secara umum media televisi memiliki tiga fungsi yaitu fungsi hiburan, fungsi informasi, dan pendidikan. Oleh karenanya dalam dalam system televisi pendidikan acara hiburan maupun informasi harus memiliki misi pendidikan. Misi pendidikan tersebut dapat dijabarkan lebih lanjut melalui pedoman sebagai berikut:
1. Program siaran harus diusahakan sesuai dengan kebutuhan khalayak yang dituju (intended audience).
2. Isi siaran harus diusahakan sesuai dengan nilai-nilai budaya yang diterima oleh masyarakat Indonesia.
3. Program siaran diusahakan untuk berkaitan dengan kegiatan yang ada di masyarakat, paling tidak harus serasi dengan pola tindak yang ada di masyarakat.
4. Tiap mata acara diusahakan untuk dikembangkan dalam bentuk paket yang berkesinambungan.
5. Tiap program harus dibuat dengan arah tujuan tertentu.

Hal ini sesuai dengan misi yang sifatnya universal yaitu mengembangkan masyarakat ke arah masyarakat gemar belajar, dimana masyarakat selalu siaga untuk melakukan tindak belajar. Untuk itu perlu diusahakan agar disediakan program-program pendidikan yang sesuai dengan keperluan, kemampuan, dan kesempatan warga belajar, serta yang memiliki daya pikat untuk diikuti.

SEJARAH TELEVISI PENDIDIKAN DI INDONESIA
Secara historis, televisi telah diujicobakan untuk keperluan pendidikan sejak tahun 1932 di State University of Iowa dalam bentuk sirkuit tertutup. Sedangkan dalam bentuk siaran diujicobakan pada tahun 1938 oleh New York University bekerjasama dengan NBC. Namun perkembangan pesatnya berlangsung setelah perang dunia ke II, ditandai dengan dibentuknya Joint Commitee on Educational Television (JECT) pada awal tahun 1950an.
Perkembangan televisi pendidikan di Indonesia sebenarnya sudah direncanakan sejak REPELITA I, namun hingga akhir dua PELITA masih belum terealisasi.di banding dengan Malaysia, Indonesia sangat tertinggal dalam hal ini. Negeri jiran tersebut sudah mengembangkan siaran televisi pendidikan sejak 1972 dengan diudarakannya televisi siaran sekolah selama enam jam sehari.
Berkaitan dengan siaran TV untuk pendidikan, Indonesia merintisnya pertama sekali melalui kerjasama dengan United Nations on International Children’s Emergency Fund (UNICEF) pada tahun 1982/1983. Program siaran TV pen-didikan yang dikembangkan ini bertemakan pembinaan watak anak-anak usia Sekolah Dasar (SD). Programnya dirancang dan dikembangkan oleh Pustekkom dan penayangannya dilakukan oleh TVRI. Program siaran TV yang dikembangkan melalui kerjasama ini bertujuan untuk membina atau mengembangkan watak anak-anak usia SD. Program siaran TV untuk pendidikan ini terus ditingkatkan dari waktu ke waktu sehingga pada 2 tahun berikutnya, Pustekkom telah berhasil memproduksi program film serial ACI (Aku Cinta Indonesia / Amir, Cici, Ito) dan ditayangkan oleh TVRI sekali setiap minggu. Materi yang dirancang untuk anak-anak usia SMP dengan tema pendidikan watak atau karakter.
Pengalaman empirik berikutnya adalah penayangan program Siaran Televisi Pendidikan Sekolah (STVPS) yang ditayangkan setiap hari melalui stasiun Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) sejak tahun 1991. Agar para siswa dapat mengikuti program STVPS di sekolah, Departemen Pendidikan Nasional melalui Pusat Teknologi Komunikasi dan Informasi Pendidikan (PUSTEKKOM) membagikan peralatan pemanfaatan siaran televisi (televisi dan video cassette recorder) ke sekolah-sekolah secara bertahap sesuai dengan kemampuan anggaran yang ada. Setelah penayangan program STVPS berlangsung beberapa tahun dan para siswa sudah mulai banyak yang mengetahui adanya program STVPS serta manfaatnya, penayangan program STVPS justru harus terhenti karena alasan finansial.
Menyadari begitu pentingnya siaran televisi pendidikan bagi bangsa Indonesia, sesuai amanat UUD 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa, maka pada tahun 2003, Depdiknas (Pustekkom) mulai melakukan persiapan untuk mempunyai stasiun televisi yang khusus menyiarkan pendidikan, dan pada tanggal 12 Oktober 2004, Mendiknas, Malik Fajar meresmikan Stasiun Televisi Pendidikan yang diberi nama Televisi Edukasi (TVE). Visi TVE adalah menjadi siaran televisi pendidikan yang santun dan mencerdaskan. Misi yang diemban adalah menyiarkan program yang mencerdas-kan masyarakat, menjadi tauladan masyarakat, menyebarluaskan informasi dan kebijakan-kebijakan Depdiknas, dan mendorong masyarakat gemar belajar.
TVE merupakan televisi pendidikan yang memiliki sasaran pemirsa yang spesifik yaitu siswa dari semua jalur, jenjang, jenis pendidikan, guru, kelompok masyarakat tertentu, dan masyarakat. . Stasiun televisi ini diresmikan oleh Menteri Pendidikan Abdul Malik Fadjar tanggal 12 Oktober 2004. Dalam pengembangan acaranya, TV Edukasi bersisikan acara siaran meliputi pendidikan formal (SD – PT), pendidikan nonformal, pendidikan informal, dan informasi pendidikan.
Agar pemanfaatan TVE dapat terintegrasi dalam program pembelajaran di sekolah, guru perlu merencanakan pemanfaatan siaran TVE dalam program pembelajaran yang dibuat di awal semester dengan mengacu pada program siaran TVE, jika tidak sesuai dengan jadwal pelajaran dapat dijadikan program pengayaan.

Pola pemanfaatan siaran TVE dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu :
1. Pola klasikal, yaitu pemanfaatan siaran TVE secara terpadu dalam kegiatan pembelajaran di kelas, karena sudah sesuai dengan kurikulum yang berlaku.Agar dapat terintegrasi dalam program pembelajaran di sekolah, guru perlu merencanakannya dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).Pemanfaatan klasikal ini dapat juga dibantu dengan LCD untuk tayangan yang lebih baik.
2. Pola Kelompok Kecil, yang dikaitkan dengan tugas kelompok dilakukan oleh siswa dengan bimbingan ddan arahan guru bidang studi. Hal ini dapat juga dilakukan jika ada kesulitan dalam menyesuaikan jadwal pelajaran dan jam tayang.Selesai menyaksikan siaaran, siswa diminta untuk melakukan diskusi dan hasilnya dilaporkan kepada guru.
3. Pola Individual, dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan tayangan TVE. Cara ini bermanfaat untuk pengayaan individual.

Langkah-langkah pemanfaatan siaran TVE dapat dijalankan sebagai berikut :
1. Penyusunan Rancangan pemanfaatan Siaran TVE yang terintegrasi dalam program pembelajaran dengan menyusun RPP yang sudah disesuaikan antara materi pelajaran, media-media yang dibutuhkan, dan jadwal siaran TVE.
2. Kegiatan-kegiatan sebelum mengikuti Siaran TVE, adalah membaca buku bahan penyerta, mengecek kelengkapan peralatan dan mengatur tempat duduk.
3. Selama pelaksanaan harus dipastikan semua siswa mengikuti siaran dengan baik, menjelaskan tujuan pembelajaran dan pokok materi sesuai isi buku penyerta dan menjaga suasana tetap kondusif, memberi pengayaan terhadap tayangan program dan membuat kesimpulan.
4. Selesai menyaksikan tayangan guru mengulas materi yang disaksikan, memberi pertanyaan dan umpan balik, melanjutkan dengan praktikum jika diperlukan, mengerjakan tugas di LKS dan mengajak siswa memperkaya materi melalui sumber belajar lain yang relevan.

TVE juga dapat dimanfaatkan pada jam pelajaran kosong, jika guru berhalangan hadir dengan pantauan dari guru piket atau guru pengganti.Selain itu dapat juga sebagai bentuk penugasan kepada siswa agar siswa dapat lebih mempersiapkan diri dan lebih aktif dalam mengikuti pelajaran yang akan diberikan di dalam kelas, bentuk penugasan dapat dilakukan di sekolah atau dirumah (PR).
Salah satu program instruksional yang disiarkan oleh TVE adalah program pendidikan untuk mempersiapkan ujian nasional untuk siswa kelas III SMP yang direlay secara nasional oleh TVRI, untuk efektifitasnya disediakan juga buku bahan penyerta untuk siswa dan guru. Buku ini memuat 528 topik siaran yang terdiri dari 178 topik matematika, 178 topik bahasa Indonesia, dan 178 topik bahasa Inggris.
Diharapkan,Pemanfaatan TVE dalam Pembelajaran ini dapat membentuk siswa menjadi lebih mandiri, cepat tanggap, lebih konsentrasi dan lebih termotivasi dalam belajar. Sehingga dapat meningkatkan nilai akhir sebagai evaluasi pendidikan, yang akan menjadi tolak ukur dalam meningkatnya mutu pendidikan.

#belajarmenulis.menulisapayangpengenditulis

#sangat.menerima.kritik.&.saran

DAFTAR BACAAN

Miarso, Yusufhadi.(2004). Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, Jakarta: Kencana.

Plomp, Tjeerd. Ely, Donald. (1996). Educational Technology – Encyclopedia (2nd Edition), Cambridge: Cambridge University Press.

Potter, W. James. (2005). Media Literacy: Third Edition, California: Sage Publications, Inc.

Riyana, Cepi. (2007). Pedoman Pengembangan Media Video. Bandung: Program P3AI

Siahaan, Sudirman. (2006). Televisi Pendidikan di Era Global, Jakarta:Pustekkom Depdiknas

Susilana, Rudi. (2003). Media Pembelajaran, Bandung: Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan FIP UPI.

Warsihna, Joko dkk (2007). Pedoman Pemanfaatan Siaran Televisi Edukasi. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan.

sumber bacaan lainnya

  1. March 7, 2013 at 3:08 pm

    You’ve made some decent points there. I checked on the web for more information about the issue and found most people will go along with your views on this web site.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: