Home > Komunikasi > KOMUNIKASI INTRAPERSONAL

KOMUNIKASI INTRAPERSONAL

M Ridwan Sutisna. 12 Desember 2010

Di suatu pusat perbelanjaan seorang ibu mengeryitkan dagu dan melirik ke arah toko perhiasan dan toko serba ada, lama si ibu tersebut berdiam tak menggerakkan kakinya untuk melangkah, hingga kemudian si ibu tersebut memasuki toko serba ada. Di tempat lain, seorang siswa tengah meratapi hasil ujian yang baru saja dibagikan dengan melamun di bawah pohon di belakang sekolah, dia menggenggam erat kertas ujian miliknya sambil menengadah dia menangis tersedu menyesali kegagalannya.

Sebagai manusia biasa contoh diatas hampir pernah dirasakan oleh setiap orang. Perilaku merenung, melamun, menimbang dan lain sejenisnya pun merupakan suatu bentuk  komunikasi walaupun hanya dilakukan oleh satu orang pelaku.

Perilaku tersebut dapat diistilahkan sebagai komunikasi intrapersonal. Menurut Mulyana komunikasi intrapersonal atau intrapribadi adalah komunikasi dengan diri sendiri, baik kita sadari atau tidak[1]. Lebih lanjut dikemukakan bahwa komunikasi ini merupakan landasan komunikasi antar pribadi dan komunikasi dalam konteks-konteks lainnya.

Dengan kata lain komunikasi intrapersonal ini terjadi inheren dalam komunikasi dua-orang, tiga-orang dan seterusnya, karena sebelum berkomunikasi dengan orang lain kita biasanya berkomunikasi dengan diri sendiri (memproses makna pesan yang diterima dan yang akan diberikan), walaupun secara tidak disadari. Oleh karenanya, Mulyana menyatakan bahwa keberhasilan komunikasi kita dengan orang lain akan sangat bergantung pada kefektifan komunikasi kita dengan diri kita sendiri[2].

Dalam komunikasi intrapersonal meliputi beberapa kegiatan yaitu sensasi, persepsi, memori dan berpikir.

A. Sensasi

Tahap awal penerimaan informasi adalah sensasi. Sensasi berasal dari kata ”sense” yang artinya pengindraaan, yang menghubungkan organisme dengan lingkungannya[3] (Rahmat, 2007:49). Menurut James Coon seperti dikutip oleh Jalaludin Rahmat menyatakan bahwa  bila alat-alat indra merubah informasi menjadi impuls-impuls saraf  – dengan ’bahasa’ yang difahami oleh ’komputer’ otak – maka terjadilah proses sensasi. Dalam proses sensasi, berdasarkan sumber informasinya indra dapat  dibagi menjadi tiga yaitu eksteroseptor yang memproses informasi dari luar, interoseptor yang mengindra informasi dari dalam diri kita, dan proprioseptor  yang mengindra gerakan tubuh kita sendiri.

B. Persepsi

Persepsi adalah proses yang menjadikan kita memeperhatikan berbagai stimulus yang ada yang mengena pada pikiran kita[4]. Menurut Jalaludin Rahmat persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan – hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan[5]. Selanjutnya ditambahkan olehnya empat dalil persepsi yang merepresentasikan faktor fungsional (personal) dan struktural (situasional) yang menentukan sensasi di sampaikan oleh David Krech dan Richard Crutchfields. yang pertama adalah persepsi bersifat selektif secara fungsional, kedua bahwa medan perseptual dan kognitif selalu diorganisasikan dan di beri arti, ketiga sifat-sifat perseptual dan kognitif dari substrukturditentukan pada umumnya oleh sifat-sifat struktur secara keseluruhan, dan keempat objek peristiwa yang berdekatan dalam ruang dan waktu atau menyerupai satu sama lain, cenderung ditanggapi sebagai bagian dari struktur yang sama.[6]

Selain ke empat dalil yang merepresentasikan faktor fungsional (personal) dan struktural (situasional), terdapat pula faktor lainnya yang dapat mempengaruhi persepsi yaitu perhatian. Perhatian terjadi apabila kita mengkonsentrasikan diri pada salah satu alat indra kita (Rahmat, 2007:52). Perhatian ini di pengaruhi faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal berupa gerakan, intensitas stimuli, kebaruan, dan perulangan. Sedangkan internal berupa faktor biologis dan sosiopsikologis.

Menurut Devito proses persepsi terjadi dalam tiga tahap yaitu:

  1. Stimulasi sensorik terjadi
  2. Stimulasi sensorik diorganisasikan
  3. Stimulasi sensorik di interpretasi dan di evaluasi[7]

C. Memori

Menurut Schlessinger dan groves seperti dikutip oleh Jalaludin Rahmat  memori adalah sistem yang sangat berstruktur, yang menyebabkan organisme sanggup merekam fakta tentang dunia dan menggunakan pengetahuannya untuk membimbing perilakunya[8].

Secara singkat Mussen dan Rosenzweig seperti dikutip oleh Rahmat menyimpulkan bahwa memory melewati tiga proses yaitu:

  1. perekaman (encoding),
  2. penyimpanan (storage), dan
  3. pemanggilan (retrieval).

Kita tidak dapat menyadari proses pertama dan kedua, sedangkan proses ketiga dapat diketahui dengan empat cara yaitu: pengingatan kembali (recall), pengenalan (recognition), belajar lagi (relearning), redintegrasi (redintegration)[9].

D. Berpikir

Proses berpikir akan melibatkan semua proses sebelumnya yaitu sensasi, persepsi dan memori. Berpikir merupakan proses yang harus di lalui sebelum seseorang melakukan sesuatu. Secara sederhana berpikir memiliki tujuan untuk menetapkan keputusan, memecahkan persoalan, dan melahirkan gagasan baru.

Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa sensasi adalah proses menangkap stimuli, persepsi adalah proses memberi makna pada sensasi sehingga manusia mendapatkan pengetahuan baru, atau dengan kata lain persepsi mengubah sensasi menjadi informasi. Memori adalah proses penyimpanan informasi dan memanggilnya kembali. Berpikir adalah mengolah dan memanipulasikan informasi untuk memenuhi kebutuhan atau memberikan respons.

Dengan mengetahui proses komunikasi intrapersonal ini diharapkan kita dapat membuat setiap konteks komunikasi yang kita lakukan dengan lebih baik melalui komunikasi intrapersonal yang lebih efektif.

[1] Mulyana, Dedy. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2004), h. 72

[2] Mulyana, Dedy. Ibid

[3] Rahmat, Jalaludin. Psikologi Komunikasi (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2007), h. 49

[4] Devito, Joseph A. Human Communication The Basic Course (New York :Harpercollins Publisher, 1991), h. 54

[5] Rahmat, Jalaludin. Ibid

[6] Krech, David and Richard S. Crutchfield. Theory and Problems of Social Psychology. (New York: McGraw Hill, 1948) dalam Rahmat, Jalaludin. ibid

[7] Devito, Joseph. Ibid

[8] Rahmat, Jalaludin. Ibid

[9] Rahmat, Jalaludin. op cit h. 152

#belajarmenulis.menulisapayangpengenditulis

#sangat.menerima.kritik.&.saran

Daftar Bacaan

Devito, Joseph A. (1991) Human Communication The Basic Course. New York :Harpercollins Publisher.

Mulyana, Deddy. (2007) Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: Remaja Rosda Karya.

Rahmat, Jalaludin. (1994) Psikologi Komunikasi.Bandung: Remaja Rosda Karya.

sumber lainnya

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: