Home > Belajar dan Pembelajaran > 12 PRINSIP PEMBELAJARAN DAN MOTIVASI BELAJAR

12 PRINSIP PEMBELAJARAN DAN MOTIVASI BELAJAR

M Ridwan Sutisna. 6 April 2011.

1. Respon akan di ulang bila akibat yang ditimbulkan menyenangkan.

  • Pembelajaran harus menyenangkan
  • Pemberian umpan balik harus positif :
    respon terhadap hasil belajar peserta didik tidak boleh menyakitkan

respon terhadap hasil belajar peserta didik tidak boleh menyakitkan
2. Perilaku belajar tidak hanya akibat dari respon, tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan siswa.

  • Lingkungan harus kondusif:
    lingkungan sekitar belajar harus mendukung (termasuk fasilitas umum dan yang secara khusus mendukung pembelajaran). Didalam kelas hanya sebagai pemicu, karena yang ada di luar kelas yang akan menjadi bahan eksplorasi.
  • Penggunaan metode dan media yang bervariasi:
    metode dan media yang digunakan dalam pembelajaran merupakan beberapa aspek yang sangat mempengaruhi terbentuknya lingkungan belajar siswa, oleh karenanya perlu untuk diberi variasi agar siswa tidak selalu belajar pada suasana lingkungan yang monoton.

3. Perilaku yang dihasilkan akan berkurang bila tidak diperkuat dengan akibat yang menyenangkan.

  • Pemberian isi pembelajaran harus bermaknadalam kehidun keseharian peserta didik:
    kebermaknaan pembelajaran akan terbangun apabila dapat dihubungkan dengan hal-hal yang sering ditemui oleh peserta didik. Akan lebih kuat kebermaknaan jika peserta didik merasa bahwa apa yang dipelajarinya berguna untuk kepentingan sehari-hari atau mendukung untuk mencapai cita-cita keinginannya.

4. Belajar yang terbatas akan ditransfer ke situasi lain secara terbatas pula.

  • Kegiatan belajar harus berkaitan dengan kondisi lingkungan yang nyata, lingkungan dan kehidupan sehari-hari:
    pembelajaran sebaiknya menggunakan sesuatu simulasi atau analogi yang sederhana, terutama jika menyangkut objek-objek yang kompeks atau tidak disukai siswa.

5. Belajar mengeneralisai dan membedakan adalah dasar untuk membangun sesuatu yang kompleks.

  • Penyajian materi harus sistematis :
    penyampaian materi haruslah sesuai dengan scope dan sequence yang sesuai.
  • Menggunakan contoh (contoh itu selalu benar) maupun non-contoh :
    sebagai upaya menyederhanakan materi haruslah didampingi oleh contoh-contoh yang sederhana sampai yang rumit sevariatif mungkin sehingga menjadi simpul-simpul kenangan yang tidak terlupakan. Termasuk dengan memberikan non-contoh sesuatu yang berlainan dengan apa yang menjadi contoh. (missal, ketika menjelaskan tentang kuda maka harus dijalaskan pula tentang apa yang bukan kuda agar siswa benar-benar dapat membedakan kuda dengan hewan lain, keledai misalnya)

6. Kesiapan mental mempengaruhi perhatian dan ketekunan selama proses belajar berlangsung.

  • Menggunakan media:
    sehingga dapat menarik perhatian peserta didik untuk mempelajari materi ajar.

7. Kegiatan belajar yang dibagi kecil-kecil disertai cara penyelesaian untuk setiap langkah akan mempercepat pencapaian tujuan belajar.

  • Penggunaan buku teks terprogram, modul dan paket belajar lainnya:
    sehingga peserta didik tidak merasa terbebani dengan materi yang harus dipelajarinya dengan tanpa paksaan. Sebuah materi yang terlalu luas agar tidak disampaikan sekaligus dalam sekali penyampaian, agar siswa dapat membangun pemahaman utuh dengan lebih ringan.

8. Kebutuhan menyederhanakan materi yang kompleks dapat dilakukan dengan menggunakan suatu model.

  • Penggunaaan media dan metode pembelajaran secara tepat:
    sebagai cara untuk memudahkan penyampaian informasi. Media dan metode yang digunakan agar disesuaikan juga dengan karakteristik dan isi materi yang akan disampaikan sehingga media dan metode dapat mempermudah penyampaian materi bukannya malah mempersulit.
  • Model-model pembelajaran:
    sehingga dapat terjadi konsistensi pembelajaran. Karena dengan digunakannya suatu model pembelajaran tertentu akan membuat proses pembelajaran menjadi terstruktur dan memiliki alur yang jelas.

9. Keterampilan tingkat tinggi pada dasarnya terbentuk dari keterampilan yang sederhana.

  • Tujuan pembelajaran harus dirumuskan secara sistematis:
    tidak terburu-buru untuk mencapai tujuan yang akan dicapai, akan tetapi scope (cakupannya) dan sequence (urutannya) harus bertahap dari yang sederhana ke yang kompleks.

10. Belajar akan lebih cepat bila peserta didik memperoleh umpan balik dan cara meningkatkannya.

  • Kemajuan peserta didik harus diinformasikan secara teratur:
    Umpan balik (feedback) dapat memberikan pengetahuan terhadap siswa tentang pencapaian belajarnya dan bagaimana pendapat gurunya mengenai pencapaian tersebut. Hal ini dapat menjadi penumbuh motivasi belajar siswa, terlebih jika diperkuat dengan penguatan (reinforcement) beruupa tips-tips belajar atau saran-saran positif.

11. Perkembangan dan kecepatan siswa sangat bervariasi.

  • Perlu adanya strategi pembelajaran yang tepat:
    strategi yang digunakan jangan sampai mematikan potensi salah satu atau sebagian siswa, sehingga strategi yang digunakan semaksimal mungkin diupayakan dapat mengakomodir seluruh potensi siswa.
  • Perlu penyediaan materi yang dirancang secara individual:
    untuk mengantisipasi keunikan setiap siswa yang tidak terakomodir oleh strategi yang telah dirancang, perlu disediakan bentuk materi yang dirancang secara individual, salah satunya dapat berperan sebagai suplemen materi.
  • Memberi kesempatan kepada siswa untuk berkembang sesuai kemampuannya:
    kemampuan siswa yang lebih cepat atau cenderung lambat jangan sampai tertahan atau ditinggalkan, dengan proporsi yang sesuai dan masing-masing harus diberikan perhatian sehingga tidak terabaikan.

12.  Dengan persiapan yang baik siswa dapat mengorganisasikan kegiatan belajarnya sendiri.

  • Memberi kesempatan pada siswa untuk memilih cara, waktu dan sumber belajar yang akan digunakan:
    pembelajaran selaiknya dapat memfasilitasi siswa untuk belajar dengan cara, waktu, dan sumber yang sesuai dengan karakteristik dan kesadarannya sendiri sehingga diharapkan pembelajaran akan berjalan lebih efektif.

Karena pada awalnya ada motivasi ekstrinsik. Setelah melewati proses pendidikan sehingga proses belajar menjadi sebuah kebutuhan dan timbul akibat dari adanya motivasi intrinsik. Motivasi muncul karena adanya ketertarikan terhadap materi yang diajarkan. Dan hal tersebut bias terjadi apabila peserta didik mengetahui kegunaan dari materi yang dipelajarinya.

Untuk membantu penerapan prinsip tersebut terdapat moodel pengembangan motivasi belajar ARCS model, yang merupakan akronim dari Attention (menarik perhatian: baru, aneh, unik, berguna), Relevance (sesuai dengan kebutuhannya atau bermanfaat),confidence (menumbuhkan kepercayaan diri), dan satisfaction (memberikan kepuasan belajar).

Salam teknologi pendidikan!

*tulisan ini merupakan interpretasi dari materi perkuliahan yang disampaikan oleh Dr.Robinson Situmorang.

#belajarmenulis.menulisapayangpengenditulis

#sangat.menerima.kritik.&.saran

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: