PEMANFAATAN TEKNOLOGI INORMASI

Muhamad Ridwan Sutisna

Kata teknologi menjadi sangat familiar bagi masyarakat dunia. Perkembangan pesat di bidang ini selama abad ke 20 terutama dalam dua dekade terakhir menjadikan istilah ini menjadi “santapan” sehari-hari. Namun, tidak banyak yang memiliki persepsi bahwa teknologi selalu identik dengan alat terutama mesin dan alat-alat elektronik. Sebuah persepsi yang harus diluruskan.

KONSEP DASAR TEKNOLOGI INFORMASI

Teknologi atau dalam bahasa Inggris ditulis technology berasal dari kata technologia yang berarti systematic treatment atau perlakuan secara sistematis dan techne yang artinya keahlian, keterampilan dan ilmu. Dari situ bisa kita bisa membuat sebuah definisi sederhana dari teknologi yaitu segala upaya untuk memecahkan masalah-masalah manusia dengan cara mengatur orang, peristiwa-peristiwa, dan mesin dengan menggunakan pengetahuan, alat-alat, prosedur, dan teknik.

Secara sederhana menurut Darmawan (2007) teknologi informasi adalah ilmu yang diperlukan untuk mengolah informasi agar informasi tersebut dapat dicari dengan mudah dan akurat. kajian dari ilmu tersebut mengenai prosedur, cara-cara dan teknik-teknik untuk menelusuri, menyimpan, dan mengolah informasi secara efisien dan efektif. Atau dengan kata lain,  teknologi informasi adalah serangkaian tahapan penanganan informasi yang meliputi penciptaan informasi, pemeliharaan saluran informasi, seleksi dan transmisi informasi, penerimaan informasi secara selektif, penyimpanan dan penelusuran informasi, dan penggunaan informasi.

Teknologi informasi juga merupakan sebuah sistem yang terdiri dari berbagai unsure yang membentuknya sehingga dapat bekerja. Terdapat tiga komponen utama yang membentuk teknologi informasi yaitu hardware (perangkat keras), software (perangkat lunak) dan brainware (Pengguna/user).

1. hardware (perangkat keras)

Perangkat keras bisa diartikan sebagai sesuatu yang bersifat fisik dari komponen teknologi informasi, secara sederhana dapat dimaknai sebagai alat teknologi informasi seperti televisi, komputer, dan telepon.

2. software (perangkat lunak)

perangkat lunak merupakan suatu sistem yang membuat sebuah alat menjadi bekerja atau berdaya guna. Seperti pada televisi, telepon atau komputer pasti memiliki suatu sistem atau program yang membuat alat-alat tersebut memiliki daya guna dalam hal teknologi informasi.

3. brainware (Pengguna/user)

sederhananya, brainware adalah pengguna alat teknologi informasi. Namun pada hakikatnya komponen brainware dari sebuah teknologi informasi adalah pengguna alat tersebut yang dapat memanfaatkan dua komponen lainnya sesuai dengan kegunaan dan fungsinya dalam bidang teknologi informasi. Richardus Eko Indrajit menambahkan bahwa telah terjadi evolusi yang secara signifikan telah menggeser paradigma keterlibatan manusia atau SDM dalam disiplin ilmu komputer. Jika di tahun-tahun awal pengembangan komputer, brainware hanya didefinisikan sebagai para user atau pengguna sistem komputer (hardware dan software), saat ini batasan brainware meluas kepada seluruh unsur manusia atau SDM yang terlibat dalam perencanaan dan pengembangan teknologi informasi. Oleh karenanya, Unsur manusia di sini lebih ditekankan pada kemampuan mereka mengimplementasikan atau mensupply jenis teknologi informasi sebagai jawaban atas demand akan sistem informasi di perusahaan atau organisasi lain.

Komponen-komponen tersebut mmembentuk sebuah kombinasi dari sistem teknologi informasi. Pada literatur lain dapat ditemukan berbagai komponen lain dari teknologi informasi seperti firmware (perangkat tegar) atau infoware (perangkat informasi).

PERKEMBANGAN TEKNOLOGI INFORMASI

Penggunaan teknologi informasi pada dasarnya sudah ada bersamaan dengan adanya manusia itu sendiri. Menurut Santika (2003) perkembangan teknologi informasi  terbagi ke dalam tiga masa yaitu:

1. masa natural

Masa natural adalah masa dimana informasi masih ada dalam bentuk sangat sederhana. Selain penyampaian informasi secara verbal, pada zaman purba juga dilakukan melalui goresan dan gambar pada batu, gua. Penggunaan teknologi yang dianggap cukup mutakhir pada masa ini adalah sejak ditemukannya tulisan baku dan alat tulis dan berhitung seperti kertas dan abacus.

2. masa mekanis

Perubahan mulai banyak terasa pada masa mekanis, dimana perkembangan teknologi informasi sudaj mulai menemukan metode dan alat bantu yang lebih rumit. Masa ini ditandai dengan ditemukannya alat fotografi pertama yang dinamakan obscura dan alat bantu hitung yang dinamakan pascalline.

3. masa elektronis

Sejak ditemukannya listrik dan terjadinya revolusi industri, terjadi pula perubahan yang signifikan pada dunia teknologi informasi. Penemuan-penemuan penting pada masa ini seperti telepon, televisi, radio dan komputer membuat informasi menjadi begitu mudah didapat dan persebaran informasi menjadi sangat cepat. Hingga saat ini, kita masih hidup dalam masa elektronis teknologi informasi. Walaupun, tidak sedikit yang menganggap bahwa kita sudah menjejakkan kaki pada masa digital.

Perkembangan teknologi informasi akan terus tumbuh bersamaan dengan perkembangan kebutuhan hidup dan keperluan akan informasi yang juga berkembang. Oleh karena itu, selama manusia hidup dan berkembang, maka teknologi informasi akan ikut berkembang.

Saat ini, perkembangan teknologi cenderung mengarah pada optimalisasi internet. Seiring tumbuh pesatnya jejaring sosial dan media online dalam kehidupan manusia, maka semakin dominan peranan teknologi informasi saat ini dalam berbagai aspek kehidupan.

TEKNOLOGI INFORMASI DALAM BERBAGAI BIDANG

Sebagaimana telah disebutkan bahwa perkembangan teknologi informasi akan terus tumbuh bersamaan dengan perkembangan kebutuhan hidup dan keperluan akan informasi yang juga berkembang. Teknologi informasi juga telah diserap dan memiliki pengaruh yang luar biasa pada berbagai bidang kehidupan manusia. Beberapa bidang yang dianggap sudah sangat dipengaruhi adalah bidang industri, kesehatan, pendidikan dan militer.

Munculnya istilah e-commerce menjadi salah satu indikator dalam bidang industri dimana teknologi informasi telah begitu dalam terlibat. Bahkan teknologi informasi sendiri saat ini telah menjadi salah satu komoditi industri yang sudah sangat berkembang. Beberapa orang terkaya di dunia merupakan orang-orang yang berkecimpung dalam bidang teknologi informasi seperti Bill Gates (Microsoft), Steve Jobs (Apple) dan Mark Zuckerberg (Facebook).

Bidang kesehatan saat ini sudah sangat berkembang dengan adanya peran teknologi informasi. Proses diagnosa dan konsultasi sudah bisa dilakukan secara lintas benua melalui teleconference  dan internet. Penggunaan teknologi pencitraan tingkat lanjut (advanced imaging) seperti  augmented reality sudah banyak diaplikasikan pada bidang ini.

Perkembangn teknologi secara umum dapat mempengaruhi bidang pendidikan. terkhusus pada teknologi informasi, sejak masa elektronis perkembangan pendidikan selalu dipengaruhi oleh perkembangan teknologi informasi. Terjadinya revolusi pendidikan menurut Eric Ashby (dalam Miarso, 2004), dapat dikatakan akibat dari berkembangnya teknologi informasi. Penggunaan siaran radio, televisi, komputer bahkan internet sudah sangat umum dalam dunia pendidikan.

Militer sebagai salah satu pihak yang berkontribusi besar terhadap perkembangan teknologi informasi menjadi salah satu bidang yang terpengaruhi secara langsung oleh perkembangan teknologi informasi. Teknologi video, satelit dan internet sangat dioptimalkan pada bidang ini di Negara-negara maju.

Pada bidang lain, seperti bidang pemerintahan, olahraga dan hiburan tidak sedikit pula pengaruh teknologi informasi. Dampak dari adanya teknologi informasi saat ini sudaah sangat sulit untuk dihindari. Melimpahnya informasi dengan berbagai cara mengaksesnya (multiple-access) seharusnya menjadi rangsangan bagi kita untuk memanfaatkannya secara positif dan bijak, agar tercipta dunia teknologi informasi yang sehat.

#belajarmenulis.menulisapayangpengenditulis

#sangat.menerima.kritik.&.saran

DAFTAR PUSTAKA

Asra, Dkk (2007), Komputer dan Media Pembelajaran di SD. Jakartra: Direktorat Jendral Pendidikan.

Darmawan, Deni. (2007). Teknologi Informasi dan Komunikasi. Bandung: Arum Mandiri Press.

Indrajit, Richardus Eko (1999) Karakteristik Sumber Daya Manusia di Bisnis Teknologi Informasi. Online [tersedia pada alamat situs http://kambing.ui.ac.id/onnopurbo/library/library-ref-ind/ref-ind-1/application/mis/karakteristik-sumber-daya-manusia-di-bisnis-teknologi-informasi-05-1999.rtf] diakses pada 9 mei 2012.

Miarso, Yusufhadi.(2004). Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, Jakarta: Kencana.

Santika, W.P (2003) Pengantar Teknologi Informasi. Online [Tersedia di http://kur2003.if.itb.ac.id/file/IntroTI-01.pdf] diakses pada tanggal 20 Januari 2012.

INFORMASI DAN KOMUNIKASI

Muhamad Ridwan Sutisna

Saat ini banyak orang menyebut bahwa kita sedang ada dalam era informasi atau masa teknologi informasi. Namun sebagian orang bahkan tidak benar-benar mengetahui apa itu sebenarnya yang disebut informasi. Selain itu terdapat keeratan yang sangat besar antara informasi dan komunikasi yang menjadikan keduanya aspek yang sulit untuk dipisahkan. Mari kita bahas satu persatu.

INFORMASI
Informasi merupakan kata yang berasal dari bahasa Latin informationem yang bisa diartikan sebagai “garis besar, konsep, ide”. Informasi merupakan kata benda dari informare yang berarti aktivitas dalam “pengetahuan yang dikomunikasikan”. Sehingga secara sederhana dapat disimpulkan secara sederhana bahwa inormasi adalah suatu pengetahuan.
McLeod (1995) menyatakan bahwa informasi adalah data yang telah diproses atau data yang memiliki arti. Sedangkan Menurut Susanto (2002) informasi sejatinya merupakan hasil dari pengolahan data, akan tetapi hasil pengolahan data yang tidak memberikan makna atau arti serta tidak bermanfaat bagi seseorang bukanlah merupakan informasi bagi orang tersebut. Berdasarkan pernyataan tersebut kita bisa mendapatkan beberapa hal yang berkaitan dengan informasi. Diantaranya adalah:
1. Informasi bersumber dari data yang telah di proses
2. Suatu informasi harus memiliki arti atau makna
3. Suatu informasi harus memiliki manfaat
Ketiga hal tersebut selanjutnya dapat disebut sebagai syarat dari sebuah informasi.
Mc. Leod (Susanto, 2002) mengemukakan bahwa suatu informasi yang berkualitas harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
 Akurat, artinya informasi mencerminkan keadaan yang sebenarnya. Pengujian terhadap hal ini biasanya dilakukan melalui pengujian yang dilakukan oleh dua orang atau lebih yang berbeda-beda dan apabila hasil pengujian tersebut menghasilkan hasil yang sama, maka dianggap data tersebut akurat.
 Tepat waktu artinya informasi itu harus tersedia atau ada pada saat informasi tersebut diperlukan, tidak besok atau tidak beberapa jam lagi.
 Relevan artinya informasi yang diberikan harus sesuai dengan yang dibutuhkan. Kalau kebutuhan informasi ini untuk suatu organisasi maka informasi tersebut harus sesuai dengan kebutuhan informasi diberbagai tingkatan dan bagian yang ada dalam organisasi tersebut.
 Lengkap artinya informasi harus diberikan secara lengkap.

DASAR KOMUNIKASI
Ada banyak definisi dari komunikasi, namun secara umum komunikasi dapat diartikan sebagai suatu aktivitas mengirim dan menerima pesan yang dilakukan oleh satu atau beberapa orang, yang dihambat oleh gangguan, terjadi dalam sebuah konteks, memiliki beberapa efek dan menyediakan kesempatan untuk adanya timbal balik (Devito, 1991). Pada hakikatnya komunikasi adalah pengiriman pesan dari komunikator kepada komunikan dengan menggunakan lambang verbal ataupun non verbal dengan harapan terjadinya sharing komunikasi. Seperti yang dipertanyakan Laswell’s dalam Heath and Bryant (2000) “who says what to whom through which channel and with what effect”.
Komunikasi juga memiliki beberapa area komunikasi yang mengklasifikasi lingkup komunikasi. Berikut adalah area-area komunikasi yang disertai dengan beberapa ilustrasi.
Area-area komunikasi:

Komunikasi yang dapat terjadi di berbagai area membuktikan bahwa komunikasi merupakan aspek penting dalam kehidupan manusia karena dapat terjadi dalam lingkup yang sangat kecil hingga lingkup yang sangat besar. Namun, dimanapun dan bagaimanapun komunikasi terjadi, pada dasarnya secara universal proses komunikasi terjadi dengan pola yang sama. Pola itu disebut dengan pola komunikasi universal seperti dijelaskan pada bagan berikut.

Bagan diatas menggambarkan apa yang disebut dengan komunikasi universal. Komunikasi universal ini berisi elemen-elemen yang yang ada disetiap aktivitas komunikasi. Dari bagan tersebut dapat diidentifikasi beberapa unsur dari komunikasi adan bagaimana suatu proses komunikasi terjadi. Suatu proses komunikasi terjadi ketika sumber/pengirim (source/encoder) mengirimkan pesan (messages) melalui suatu saluran (channels) kepada penerima (receiver/decoder) yang dapat memberikan umpan balik (feedback), pada proses pengiriman pesan maupun umpan balik, terdapat gangguan/hambatan (noise) yang dapat merusak atau merubah isi pesan yang dikirimkan.

INFORMASI DAN KOMUNIKASI
Akibat dari tingginya kebutuhan manusia untuk berkomunikasi, maka perkembangan komunikasi manusia membawa pada munculnya teknologi komunikasi. Pada dasarnya teknologi komunikasi merupakan wujud hasil ciptaan dan temuan manusia dalam upaya memenuhi kebutuhan berhubungan satu sama lain dengan cepat, jelas, dan menjangkau.
Darmawan (2007) kemudian menyatakan bahwa teknologi komunikasi berkaitan erat dengan informasi. Dalam hal ini terdapat teknologi komunikasi yang berfungsi menyalurkan informasi, teknologi komunikasi yang berfungsi mengolah informasi, teknologi komunikasi yang berfungsi sebagai pengolah dan penyimpan informasi.

Dari pemaparan tersebut, dapat disimpulkan bahwa informasi merupakan sesuatu yang didapat dari data yang sudah diproses sehingga tidak dalam bentuk data mentah. Selain itu data yang telah diproses tersebut haruslah memiliki arti atau makna dan manfaat sehingga dapat disebut sebagai sebuah informasi. Pengetahuan mengenai informasi dan komunikasi ini diperlukan agar dalam prosesnya dapat dihasilkan suatu informasi yang baik dan kemudian dapat dikomunikasikan dengan baik kepada sasarannya.

#belajarmenulis.menulisapayangpengenditulis

#sangat.menerima.kritik.&.saran

DAFTAR REFERENSI
Asra, Dkk (2007), Komputer dan Media Pembelajaran di SD. Jakartra: Direktorat Jendral Pendidikan.
Darmawan, Deni. (2007). Teknologi Informasi dan Komunikasi. Bandung: Arum Mandiri Press.
Devito, J. A., (1991), Human Communication, The basic Course, New York: Harper Collins Publishers.
Raymond, McLeod.Jr (1995), Sistem Informasi Manajemen Jilid I, Edisi Bahasa. Indonesia, Jakarta : Salemba Empat.
Heath, R. L., Bryant, J. (2000) human communication theory and research 2nd ed. (concept, context, and challenges). New Jersey: Lawrence erlbraum Associates.Inc Publisher.
Susanto, Azhar. (2002) Sistem Informasi Manajemen: Konsep dan Perkembangannya. Bandung: Lingga Jaya.

IMPLEMENTASI TEKNOLOGI KINERJA DALAM ORGANISASI (part 3)

February 25, 2012 2 comments

TEKNOLOG KINERJA SEBAGAI AGEN PERUBAHAN

MUHAMAD RIDWAN SUTISNA, DKK

Analisis dan Rencana

Pada dasar pemahaman empat area yang telah kita bahas, seorang teknolog kinerja yang efektif akan menganalisa setiap area tersebut pada kawasan kekuatan, kelemahan, potensi masalah, dan peluang (SWOT) dari implementasi. Kemudian mempertimbangkan sumber-sumber dan potensi lainnya serta membangun jadwal pelaksanaan waktu implementasi.

Pembangunan Tim

Walaupun inovasinya sederhana, berbagai tindakan yang ada akan lebih banyak yang diperuntukan untuk kelompok atau tim dibandingkan dengan yang diperuntukan untuk individu. Ide untuk membangun sebuah tim untuk mengoptimalkan pencapaian perusahaan adalah sesuatu yang baru.

Jika sebuah inovasi dianggap terlalu kompleks maka tim akan meminta dukungan dari luar organisasi yang bekerja sebagai spesialis. Karena hal ini juga menjadi sesuatu yang penting karena sebuah tim perubahan yang baik dapat bekerjasama antara konsultan internal dan konsultan dari luar.

#belajarmenulis.menulisapayangpengenditulis

#sangat.menerima.kritik.&.saran

IMPLEMENTASI TEKNOLOGI KINERJA DALAM ORGANISASI (part 2)

February 19, 2012 Leave a comment

MUHAMAD RIDWAN SUTISNA, DKK

BERHADAPAN DENGAN KELEBIHAN DAN KEKURANGAN

Burkman (1987) menyimpulkan bahwa tidak cukup dengan adanya inovasi kinerja yang baik. Inovasi kinerja juga diterima oleh user sebagai sesuatu yang baik. Walaupun semua karakteristik inovasi sudah tersedia. User bisa jadi tidak melihatnya jika tidak dibantu. Secara umum kuncinya adalah menonjolkan sisi positif dari inovasi. Karena ketika nilai inovasi bersifat positif maka hasilpun akan maksimal. Ketika nilai bersifat negative maka hasilnya pun akan minimum.

KELEMAHAN

TAKTIK

Lack Of Relative Advantages Ketahui titik lemah dan kekuatannya. Kemudian hadapi kelemahannya. Jika terlalu mahal, perhitungkan biaya secara efektif. Cari aspek-aspek yang menghabiskan biaya tinggi, ukur kelayakannya. Bersiaplah untuk penurunan biaya.
Lack Ease Of Understanding Pastikan bahwa anda mengerti faktor faktor terkait, termasuk keuntungan dan kerugiannya. Berikan contoh-contoh sederhana melalui cerita sukses, mengunjungi tempat-tempat yang terkait dan lain sebagainya.
Lack Ease Of Learning Ketahui aspek-aspek yang sulit untuk dipelajari. Rancanglah suatu pelatihan atau bantuan kerja untuk mengurai kesulitan. Jika terjadi di bagian atau tingkatan yang berbeda, dapat dipertimbangkan pelatihan terpisah. Rancang perlakuan yang pantas kemudian uraikan kesulitannya dan beri penjelasan.
Lack Ease Of Use Ketahui aspek-aspek yang rumit untuk digunakan. Siapkan pelatihan atau bantuan kerja. Pertimbangkan dukungan dari system yang berlaku. Cari cara untuk pengaplikasiannya pada berbagai bagian dan tingkatan. Kemudian uraikan area-area yang berpotensi menimbulkan masalah.
Lack Of Compatibility Carilah aspek-aspek inovasi (seperti prosedur atau output) yang memiliki potensi kesamaan dengan aspek-aspek yang pernah terjadi sebelumnya. Carilah kesamaannya. Lakukan perbandingan terhadap hal-hal yang baru dengan yang pernah ada sebelumnya, kemudian bandingkan.
Lack Of Modifiability Ketahuilah aspek-aspek yang sangat ingin dimodifikasi oleh para user, identifikasi aspek-aspek yang bisa dan tidak bisa dimodifikasi. Cari aspek-aspek yang dapat dimodifikasi tanpa merubah esensi fungsinya.
Lack Of Sizable Social Impact Ketahui pola hubungan yang ada diantara orang-orang penting, anar kelompok dan antar anggota kelompok.gambarkan bagaimana inovasi dapat merubah pola hubungan tersebut. Cari alternative yang dapat mengatasinya.

 

KESIAPAN ORGANISASI

Sebuah inovasi tertentu akan lebih bernilai tinggi pada suatu waktu dibandingkan waktu lain, bagi suatu organisasi dibandingkan dengan organisasi yang lain. Sebagian alasannya ada pada organisasi itu sendiri. Beberapa factor organisasi yang dapat mempengaruhi implementasi inovasi adalah Life Cycle, Strategic Plan, Culture, External Conditions.

Life Cycle

Seperti halnya manusia, suatu organisasi juga mengalami siklus hidup dengan berbagai tingkatan dan perkembangan (Sperry, Mickelson, dan Hunsaker, 1977). Tingkat perkembangan organisasi pada saat inovasi diajukan akan mempengaruhi nilai perubahan organisasi.

Culture

Semua organisasi memiliki budaya masing-masing. Kebudayaan yang ada akan mempengaruhi bagaimana penerimaan terhadap inovasi. Walaupun terkadang tidak selalu inovasi dan kebudayaan yang ada pada organisasi cocok.

Strategic Plan

Salah satu aspek yang mendukung implementasi inovasi adalah adanya rencana strategis organisasi. Ketika inovasi selaras dengan rencana strategi organisasi, maka pelaksana inovasi mempunyai tambahan argument kuat untuk mendapatka dukungan manajemen dan meyakinkan kelompok user.

External Conditions

Akan selalu ada kondisi eksternal yang mempengaruhi organisasi. Hal –hal semacam ini harus juga dipertimbangkan ketika mengaplikasikan sebuah inovasi. Karena hal tersebut akan memberikan pengaruh yang signifikan secara tidak langsung terhadap jalannya inovasi dan organisasi.

DUKUNGAN PEMIMPIN

Pemimpin organisasi dapat saja menghentikan proses implementasi dan inovasi-inovasi didalamnya. Oleh karenanya, dukungan dari jajaran pemimpin organisasi sangat dibutuhkan untuk mendukung terjadinya perubahan.

Sponsors

Mungkin pihak yang paling berpengaruh dalam perubahan adalah para sponsor. Karena mereka adalah orang-orang yang memiliki inisiatif untuk adanya perubahan. Secara umum semakin tinggi posisi sponsor dalam suatu organisasi, maka akan semakin baik.

Managers

Jika sebuah perubahan hanya memfokuskan pada sponsor dan user, maka akan ada gap yang timbul diantara keduanya. Oleh karenanya, pihak-pihak yang berada diantara sponsor dan user memiliki potensi untuk memberikan pengaruh signifikan terhadap perubahan yang diinginkan.

Gatekeepers

Ada beberapa jenis posisi dalam suatu organisasi yang memiliki sedikit kekuasaan formal dan kepentingan dalam sebuah inovasi. Biasanya posisi ini bukanlah para pemimpin, namun memiliki kunci akses terhadap para pemimpin, informasi dan lain sebagainya. Implementasi yang sukses memerlukan identifikasi terhadap posisi-posisi tersebut dan menjalin hubungan yang baik.

PENERIMAAN USER

Untuk meningkatkan penerimaan user terhadap inovasi dan tingkat kesuksesan implementasi, user sebaiknya dilibatkan sejak awal jika memungkinkan. Pelibatan dari awal juga termasuk memberikan waktu bagi setiap orang untuk melakukan penyesuaian. Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan seseorang adalah  User’s concern, stages of adoption, resitance, style, change load, dan influence of other.

User’s concern

Fokus perhatian user terhadap perubahan akan mempengaruhi penerimaan user terhadap perubahan. Setiap user mempertimbangkan apa efek dari perubahan terhadap dirinya, bagaimana manfaat perubahan tersebut, bagaimana efeknya tehadap jalannya organisasi, dan lain sebagainya.

stages of adoption

Adopsi adalah suatu proses, bukan suatu kejadian. Oleh karenanya adopsi ini bisa terjadi dalam beberapa tingkatan. Berikut ini 5 tingkatan adopsi dan beberapa strategi agen perubahan.

STAGE

STRATEGY

Awareness – waspada Intoduce – mengenalkan
Curiousity – penasaran Inform – menjelaskan
Visualization – visualisasi Show – memperlihatkan
Learning – mempelajari Train – melatih
Use – menggunakan Support – membantu

Resistance

Perlawanan akan selalu berpotensi untuk muncul walaupun penerimaan user positif. Adanya perlawanan tergantung pada bagaimana pemikiran dan perasaan mereka terhadap apa yang telah ditinggalkan dan apa yang akan datang.

Individual Style

Setiap individu pasti berbeda, memiliki berbagai karakteristik masing-masing. Gaya dan karakteristik tersebut ikut berperan besar mempengaruhi bagaimana penerimaan seseorang terhadap perubahan.

Change load

Beban perubahan juga mempengaruhi penerimaan terhadap inovasi. Apapun gayanya, juga persepsinya terhadap perubahan, jika terlalu banyak atau terlalu berat perubahan tersebut dapat membuat user sakit dan terbebani.

Influence of Others

Pengaruh orang lain akan signifikan dapat terjadi bagaimanapun seseorang dapat berubah.

KELOMPOK USER YANG BERBEDA

Dalam inovasi-inovasi yang kompleks, seringkali terdapat lebih dari satu kelompok yang membutuhkan adaptasi terhadap perubahan. Dikarenakan adanya berbagai kelompok user maka tidak hanya perlu diidentifikasi tapi juga perlu untuk dicari kelompok prioritasnya berdasarkan biaya dan impact yang akan diperoleh.

#belajarmenulis.menulisapayangpengenditulis

#sangat.menerima.kritik.&.saran


IMPLEMENTASI TEKNOLOGI KINERJA DALAM ORGANISASI (part 1)

January 31, 2012 Leave a comment

MUHAMAD RIDWAN SUTISNA, DKK

Dalam teknologi kinerja, implementasi dianggap sebagai penerapan atau pembaharuan dalam teknologi kinerja atau produk teknologi pada suatu organisasi. Penerapan atau pembaruan dalam teknologi kinerja misalnya, perekrutan yang sistematis, system instruksi, atau desain suatu fasilitas. Sedangkan, penerpan atau pembaruan pada produk teknologi misalnya system perekrutan karyawan, mengadakan pelatihan dan desain tempat kerja.

Implementasi yang paling sukses terjadi ketika inovasi kinerja berintegrasi dalam tempat kerja dan menghasilkan keuntungan personal dan organisasi secara maksimal, dan meminimalisai kesulitan personal dan organisasi dalam konteks waktu dan biaya.
kondisi tersebut dikarenakan inovasi sangat bernilai, ada kesiapan organisasi, pola kepemimpinan sangat mendukung, dan para pengguna dapat menerima dengan baik. Atau mungkin dikeranakan pihak yang menginginkan perubahan kompetensi ini bekerjasama dengan pihak lain untuk menganalisis factor-faktor tersebut, mengintegrasikannya ke dalam rencana implementasi dan memfasilitasi rencana tersebut.
Model Implementasi dan Pengembangan
Dalam suatu perencanaan pengembangan model yang biasanya dipakai memiliki langkah-langkah analisis, desain, produksi, evaluai, dan implementasi. Ketika implementasi ditempatkan pada akhir proses pengembangan, maka akan dipastikan hasilnya tidak akan baik. Implementasi harus berjalan sedari awal proses pengembangan.

Prinsip tersebut diaplikasikan pada model implementasi cross-functional. Seperti diperlihatkan pada bagan di bawah ini, setiap garis menunjukan proses yang terjadi sedangkan garis putus-putus menandakan adanya pertukaran informasi pada masa tersebut.

Cross-Functional Model

NILAI INOVASI
Sebagian besar inovasi memiliki nilai potensial yang sama bagi pengguna maupun organisasi. Ada beberapa karakteristik inovasi yang diketahui untuk diberi nilai yaitu Relative Advantage, Simplify, Compatibility, Modifiablility, Low Social Impact.

Relative Advantage
Keuntungan yang relatif dari sebuah inovasi haruslah dipertimbangkan dengan sebaik mungkin. Sebagian besar persepsi, bahwa inovasi yang menguntungkan pengguna itu cenderung lebih baik dibandingkan untuk keuntungan organisasi. Sebenarnya, untuk meningkatkan peluang kesuksesan pengguna dan organisasi selayaknya mendapatkan keuntungan yang proporsional.

Simplicity
Dalam sebuah inovasi sangat penting untuk memenuhi minimal tiga syarat, mudah dipahami, mudah dipelajari dan mudah digunakan. Dan dalam kebanyakan kasus, mudah disini dipandang dari sudut pandang pengguna. Artinya sebuah inovasi harus mengandung makna tidak mempersulit pengguna dengan kehadirannya.

Compatibility
Pengguna menilai inovasi yang selaras dengan praktek sebelumnya. Kesesuaian terhadap sistem lama menjadi suatu pertimbangan tambahan. Karena semakin sesuatu sistem yang baru berintegrasi dengan sistem yang lama maka akan semakin baik. Dengan begitu inovasi akan berjalan lebih baik untuk mencapai hasil optimal.

Modifiablility
Pengguna menilai inovasi yang dapat dimodifikasi untuk dapat menyesuaikan dengan keadaan tertentu. Dalam beberapa keadaan tertentu inovasi dapat disesuaikan dengan keadaan tersebut sehingga dapat mengakomodasi berbagai situasi yang terjadi.

Low Social Impact
Pengguna menilai inovasi yang tidak berefek pada hubungan social mereka yang selama ini terjadi. Seorang agen perubahan yang efektif akan memepertimbangkan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi sistem sosial yang ada dan mencoba untuk menghindari aspek yang dapat mengganggu sistem sosial tersebut.

Teknologi Pembelajaran (Instructional Technology) sebagai solusi masalah belajar.

December 12, 2011 Leave a comment

M Ridwan Sutisna. September 2011.

 

 

 

 

Setiap sekolah memiliki beban untuk dapat mendidik siswa-siswinya agar dapat setidaknya melewati proses belajar dengan baik yang ditandai dengan tercapainyastandar kompetensi yang telah ditentutkan. Proses tersebut dapat diukur melalui proses ujian akhir semester dan ujian nasional.
Dengan adanya perbedaan prestasi akademik siswa, sekolah memiliki tanggung jawab untuk dapat membawa seluruh siswanya-siswinya agar dapat mencapai target lulus ujian akhir semester dan ujian nasional. Bagi siswa yang memiliki prestasi akademik tergolong baik hal tersebut mungkin bukanlah suatu masalah besar, selain memiliki kepercayaan diri lebih baik, berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan oleh sekolah secara berkala melalui ulangan harian, ujian tengah dan akhir semester, terbukti bahwa mereka memiliki kemampuan yang cukup baik.
Permasalahannya ada pada golongan siswa yang lain, yang tidak memiliki prestasi belajar yang cukup baik berdasarkan pengukuranb yang dilakukan oleh pihak sekolah. Siswa-siswa yang tidak menonjol tersebut biasanya kurang mendapatkan perhatian lebih dari pihak sekolah yang pada umumnya lebih memperhatikan siswa berprestasi. Hal tersebut tercermin dari banyaknya sekolah yang memiliki kelas unggulan dimana siswa-siswa berprestasi lebih dalam bidang akademik dikumpulkan dan diberi fasilitas lebih baikdari mulai ruang kelas khusus hingga penugasan guru yang dianggap terbaik.
Siswa-siswa yang secara akademik dianggap kurang memiliki prestasi akademik yang baik atau cenderung “jeblok” apalagi jika mereka berasal dari keluarga yang kurang mampu dan sama sekali tidak memiliki prestasi non-akademik mungkin akan terlupakan. Kelompok siswa ini akan semakin tertinggal dan terancam mendapatkan titel “tidak naik kelas” atau “tidak lulus”. Sehingga dikhawatirkan akan mengancam masa depan mereka juga.
Sekolah mengah memiliki tanggung jawab lebih dari sekedar meluluskan siswanya pada ujian nasional. Sekolah mengah juga berkewajiban mempersiapkan siswa-siswanya untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi (sekolah menengah atas atau perguruan tinggi), selain juga mempersiapkan mereka yang tidak melanjutkan jenjang pendidikannya agar mereka memiliki kemampuan yang berdaya guna di masyarakat sehingga mampu bertahan hidup.
Program wajib belajar sembilan tahun dari pemerintah salah satunya yang membuat beberapa sekolah menengah terutama tingkat pertama (SMP) menyadari bahwa sebagian siswanya mungkin saja sudah tidak berniat melanjutkan ke jenjang SMA (sekolah mengah atas). Oleh karena itu, hanya meluluskan siswanya dalam ujian nasional saja masih dianggap belum cukup oleh beberapa sekolah.
Setiap sekolah yang memiliki kesadaran untuk menghadapi masalah tersebut berusaha mengatasinya dengan melakukan berbagai alternatif perlakuan. Beberapa diantaranya yaitu dengan mengaktifkan sistem remedial, memberikan les tambahan di luar jam belajar, menyelenggarakan pengayaan untuk persiapan ujian nasional dan lain sebagainya. Sebagaimana disampaikan oleh Abin Syamsudin (2003) bahwa untuk mengantisispasi dan mengurangi kemungkinan terjadinya permasalahan yang berkaitan dengan perilaku siswa adalah dengan memberikan strategi yang tepat baik kepada siswa-siswa baik yang berprestasi/cepat (the accelerated students) maupun yang kurang berprestasi/lambat (slow learners).
Pada kawasan teknologi pembelajaran, strategi pembelajaran termasuk ke dalam kawasan desain, menurut Barbara B. Seels dan Rita C. Richey (1994) kawasan desain memiliki tujuan untuk menciptakan strategi dan produk pada tingkat makro seperti program dan kurikulum, dan pada tingkat mikro seperti pelajaran dan modul. Artinya terdapat banyak cara baik pada tingkat makro maupun pada tingkat mikro yang dapat dilakukan sebagai usaha untuk mengatasi masalah kesulitan belajar ini.
Teknologi pendidikan atau teknologi pembelajaran secara singkat adalah penyelesai masalah dengan cara penelitian dan praktik terutama dengan jalan pendidikan. Cara apapun, dimanapun dan untuk tujuan apapun. Tapi lebih luas lagi,
dalam kawasan teknologi pendidikan menurut definisi AECT (Association for Educational Communications and Technology) tahun 1994, teknologi pembelajaran meliputi desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, dan evaluasi. kelima kawasan tersebut merupakan lahan eksploitasi bagi setiap pendidik untuk dapat menyelesaikan berbagai masalah dalam pembelajaran. misalnya, masalah pembelajaran diselesaikan dengan menDESAIN ulang rencana pembelajaran, melakukan PENGEMBANGAN metode atau strategi pembelajaran, PEMANFAATAN media atau alat bantu pembelajaran (teaching and learning aids), memperbaiki PENGELOLAAN atau manajemen pembelajaran, atau melakukan evaluasi terhadap pembelajaran yang telah dilakukan.
Pada dasarnya setiap masalah haruslah diselesaikan, termasuk masalah belajar. oleh karenanya, teknologi pembelajaran menyajikan berbagai alternatif pemecahan masalah belajar melalui kawasan-kawasan teknologi pembelajaran. lagi pula, tidak ada masalah yang tidak ada solusinya bukan?

#belajarmenulis.menulisapayangpengenditulis

#sangat.menerima.kritik.&.saran

DAFTAR BACAAN

Abin Syamsudin Makmun (2003). Psikologi Kependidikan.

Barbara B. Sheels dan Rita C. Richey, Teknologi Pembelajaran Definisi dan Kawasannya, AECT (1994) diterjemahkan oleh Dewi S Prawiradilaga, Raphael Rahardjo dan Yusuf Hadi Miarso.

TELEVISI PENDIDIKAN (BAGIAN 2)

August 30, 2011 1 comment

TELEVISI PENDIDIKAN, KARAKTERISTIK DAN SEJARAH PERKEMBANGANNYA DI INDONESIA

Muhamad Ridwan Sutisna, dkk
DEFINISI
Ada beberapa istilah yang berkaitan erat dengan televise pendidikan diantaranya adalah Instructional Television, Educational Television, dan School Television. Instructional Television atau televisi pembelajaran secara umum berarti pada program yang didesain untuk kepentingan suatu pembelajaran yang spesifik. Contohnya adalah program interaktif SMUN (Solusi Menghadapi Ujian Nasional) yang disiarkan oleh TVE dan TVRI atau program Kuliah Universitas Terbuka yang pernah ditayangkan oleh TPI.

Sedangkan Educational Television atau televisi pendidikan mengandung makna yang lebih luas, yang mana akan mencakup penggunaan untuk pendidikan program-program yang memberikan informasi yang relevan, terlepas dari apakah itu dirancang khusus untuk program studi tertentu contohnya adalah Discovery Channel, National Geographic dan program-program TalkShow.

School Television atau televisi sekolah adalah sebuah bentuk pengembangan televisi pembelajaran untuk dipergunakan di sekolah tertentu.

KARAKTERISTIK
Secara umum televisi pendidikan yang digunakan sebagai media pembelajaran mewarisii kelebihan media pembelajaran secara umum. Diantaranya adalah:
1. Mampu memberikan rangsangan yang bervariasi kepada otak kita sehingga otak mampu berfungsi secara optimal.
2. Mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh peserta didik.
3. Melampaui batas ruang kelas.
4. Memungkinkan interaksi langsung antara peserta didik dengan lingkungannya.
5. Menghasilkan keseragaman pengamatan.
6. Membangkitkan keinginan dan minat baru.
7. Membangkitkan motivasi dan merangsang untuk belajar.
8. Memberikan pengalaman yang menyeluruh dari suatu objek abstrak atau kongkrit.
9. Memberikan kesempatan untuk belajar mandiri.
10. Meningkatkan kemampuan keterbacaan baru.
11. Meningkatkan efek sosialisasi.
12. Meningkatkan ekspresi diri.
Secara khusus televisi memberikan penyajian yang sama dengan media film (motion pictures), perbedaannya dengan film yaitu televisi memiliki proses elektronis dalam merekam, menyalurkan dan memeragakan gambar dan suara. Oleh karena itu, televisi memiliki karakteristik yang sama dengan media film sebagai media yang paling canggih dengan kemampuannya yang dapat menyampaikan lima bentuk informasi yaitu gambar, garis, symbol, suara dan gerakan.
Beberapa karakteristik positif media televisi adalah:
1. Memberikan pesan yang dapat diteima secara lebih merata oleh siswa.
2. Sangat bagus untuk menerangkan suatu proses.
3. Mengatasi keterbatasan ruang dan waktu.
4. Lebih realistis, dapat diulang-ulang dan dihentikan sesuai dengan kebutuhan.
5. Membrikan kesan yang mendalam, yang dapat mempengaruhi sikap siswa.

Televisi dapat diklasifikasikan dalam beberapa jenis, diantaranya: televisi terbuka (open boardcast television), televisi siaran terbatas/TVST (Cole Circuit Televirion/CCTV), dan video-cassette recorder (VCR).

1. Media Televisi Terbuka
Media televisi terbuka adalah media audio-visual gerak yang penyampaian pesannya melalui pancaran gelombang elektromagnetik dari satu stasiun, kemudian pesan tadi diterima oleh pemirsa melalui pesawat televisi.

Kelebihan Media Televisi Terbuka
a. Informasi/pesan yang disajikannya lebih aktual.
b. Jangkauan penyebarannya sangat luas.
c. Memberikan pesan yang dapat diterima secara lebih merata oleh siswa.
d. Sangat bagus untuk menerangkan suatu proses.
e. Mengatasi keterbatasan ruangdn waktu.
f. Memberikan kesan yang mendalam, yang dapat mempengaruhi sikap siswa.

Kelemahan Media Televisi Terbuka
a. Programnya tidak dapat diulang-ulang sesuai kebutuhan.
b. Sifat komunikasinya hanya satu arah.
c. Gambarnya relatif kecil.
d. Kadangkala terjadi distorsi gambar dan warna akibat kerusakan atau gangguan magnetik.

2. Media Televisi Siaran Terbatas (TVST)
TVST atau CCTV adalah media audiovisual gerak yang penyampaian pesannya didistribusikan melalui kabel (bukan TV kabel). Dengan perkataan lain, kamera televisi mengambil suatu objek di studio, misalnya guru yang sedang mengajar, kemudian hasil pengambilan tadi didistribusikan melalui kabel-kabel ke pesawat televisi yang ada di ruangan-ruangan kelas.
Kelebihan televisi siaran terbatas ini dibandingkan dengan televisi terbuka diantaranya adalah komunikasi dapat dilakukan secara dua arah (hubungan antara studio dan kelas dilakukan melalui intercom), kebutuhan siswa dapat lebih diperhatikan dan terkontrol. Sedangkan kelemahannya adalah jangkauannya relatif terbatas.

3. Media Video Cassette Recorder (VCR)
Berbeda dengan media film, media VCR perekamannya dilakukan dengan menggunakan kaset video, dan penayangannya melalui pesawat televisi; sedangkan media film, perekaman gambarnya menggunakan film selluloid yang positif dan gambarnya diproyeksikan melalui proyeksi ke layar.
Secara umum, kelebihan media VCR sama dengan kelebihan yang dimiliki oleh media televisi terbuka. Selain itu, media VCR ini memiliki kelebihan lainnya yaitu programnya dapat diulang-ulang. Akan tetapi kelemahannya adalah jangkauannya terbatas.

Pendapat lain menyatakan bahwa penyiaran program TV pendidikan dapat digolongkan menjadi siaran yang bersifat umum dan khusus. Siaran yang bersifat umum adalah program pendidikan yang dapat diikuti oleh semua golongan pemirsa. Contoh siaran yang bersifat umum misalnya adalah program discovery, features tentang seni dan budaya, dan sejumlah program talk show dengan topik yang sangat bervariasi. Program berbentuk talkshow dan features yang belakangan ini banyak ditayangkan pada sejumlah stasiun TV swasta diharapkan dapat memperluas wawasan pemirsa tentang bidang ilmu dan pengetahuan tertentu.
Siaran TV pendidikan yang bersifat khusus yang sering disebut sebagai TV pembelajaran (instructional television) adalah siaran TV yang sengaja dirancang untuk pemirsa atau khalayak tertentu. Contoh siaran pendidikan adalah pelajaran sekolah dan siaran perkuliahan Universitas Terbuka (UT) yang pernah ditayangkan oleh Televisi Republik Indonesia (TVRI) dan Televisi Pendidikan Indonesia (TPI), atau yang sekarang ditayangkan oleh TVE. Siaran ini dirancang secara khusus untuk mengkomunikasikan materi ajar kepada siswa sekolah dan mahasiswa yang mengikuti program pendidikan jarak jauh.
Secara umum media televisi memiliki tiga fungsi yaitu fungsi hiburan, fungsi informasi, dan pendidikan. Oleh karenanya dalam dalam system televisi pendidikan acara hiburan maupun informasi harus memiliki misi pendidikan. Misi pendidikan tersebut dapat dijabarkan lebih lanjut melalui pedoman sebagai berikut:
1. Program siaran harus diusahakan sesuai dengan kebutuhan khalayak yang dituju (intended audience).
2. Isi siaran harus diusahakan sesuai dengan nilai-nilai budaya yang diterima oleh masyarakat Indonesia.
3. Program siaran diusahakan untuk berkaitan dengan kegiatan yang ada di masyarakat, paling tidak harus serasi dengan pola tindak yang ada di masyarakat.
4. Tiap mata acara diusahakan untuk dikembangkan dalam bentuk paket yang berkesinambungan.
5. Tiap program harus dibuat dengan arah tujuan tertentu.

Hal ini sesuai dengan misi yang sifatnya universal yaitu mengembangkan masyarakat ke arah masyarakat gemar belajar, dimana masyarakat selalu siaga untuk melakukan tindak belajar. Untuk itu perlu diusahakan agar disediakan program-program pendidikan yang sesuai dengan keperluan, kemampuan, dan kesempatan warga belajar, serta yang memiliki daya pikat untuk diikuti.

SEJARAH TELEVISI PENDIDIKAN DI INDONESIA
Secara historis, televisi telah diujicobakan untuk keperluan pendidikan sejak tahun 1932 di State University of Iowa dalam bentuk sirkuit tertutup. Sedangkan dalam bentuk siaran diujicobakan pada tahun 1938 oleh New York University bekerjasama dengan NBC. Namun perkembangan pesatnya berlangsung setelah perang dunia ke II, ditandai dengan dibentuknya Joint Commitee on Educational Television (JECT) pada awal tahun 1950an.
Perkembangan televisi pendidikan di Indonesia sebenarnya sudah direncanakan sejak REPELITA I, namun hingga akhir dua PELITA masih belum terealisasi.di banding dengan Malaysia, Indonesia sangat tertinggal dalam hal ini. Negeri jiran tersebut sudah mengembangkan siaran televisi pendidikan sejak 1972 dengan diudarakannya televisi siaran sekolah selama enam jam sehari.
Berkaitan dengan siaran TV untuk pendidikan, Indonesia merintisnya pertama sekali melalui kerjasama dengan United Nations on International Children’s Emergency Fund (UNICEF) pada tahun 1982/1983. Program siaran TV pen-didikan yang dikembangkan ini bertemakan pembinaan watak anak-anak usia Sekolah Dasar (SD). Programnya dirancang dan dikembangkan oleh Pustekkom dan penayangannya dilakukan oleh TVRI. Program siaran TV yang dikembangkan melalui kerjasama ini bertujuan untuk membina atau mengembangkan watak anak-anak usia SD. Program siaran TV untuk pendidikan ini terus ditingkatkan dari waktu ke waktu sehingga pada 2 tahun berikutnya, Pustekkom telah berhasil memproduksi program film serial ACI (Aku Cinta Indonesia / Amir, Cici, Ito) dan ditayangkan oleh TVRI sekali setiap minggu. Materi yang dirancang untuk anak-anak usia SMP dengan tema pendidikan watak atau karakter.
Pengalaman empirik berikutnya adalah penayangan program Siaran Televisi Pendidikan Sekolah (STVPS) yang ditayangkan setiap hari melalui stasiun Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) sejak tahun 1991. Agar para siswa dapat mengikuti program STVPS di sekolah, Departemen Pendidikan Nasional melalui Pusat Teknologi Komunikasi dan Informasi Pendidikan (PUSTEKKOM) membagikan peralatan pemanfaatan siaran televisi (televisi dan video cassette recorder) ke sekolah-sekolah secara bertahap sesuai dengan kemampuan anggaran yang ada. Setelah penayangan program STVPS berlangsung beberapa tahun dan para siswa sudah mulai banyak yang mengetahui adanya program STVPS serta manfaatnya, penayangan program STVPS justru harus terhenti karena alasan finansial.
Menyadari begitu pentingnya siaran televisi pendidikan bagi bangsa Indonesia, sesuai amanat UUD 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa, maka pada tahun 2003, Depdiknas (Pustekkom) mulai melakukan persiapan untuk mempunyai stasiun televisi yang khusus menyiarkan pendidikan, dan pada tanggal 12 Oktober 2004, Mendiknas, Malik Fajar meresmikan Stasiun Televisi Pendidikan yang diberi nama Televisi Edukasi (TVE). Visi TVE adalah menjadi siaran televisi pendidikan yang santun dan mencerdaskan. Misi yang diemban adalah menyiarkan program yang mencerdas-kan masyarakat, menjadi tauladan masyarakat, menyebarluaskan informasi dan kebijakan-kebijakan Depdiknas, dan mendorong masyarakat gemar belajar.
TVE merupakan televisi pendidikan yang memiliki sasaran pemirsa yang spesifik yaitu siswa dari semua jalur, jenjang, jenis pendidikan, guru, kelompok masyarakat tertentu, dan masyarakat. . Stasiun televisi ini diresmikan oleh Menteri Pendidikan Abdul Malik Fadjar tanggal 12 Oktober 2004. Dalam pengembangan acaranya, TV Edukasi bersisikan acara siaran meliputi pendidikan formal (SD – PT), pendidikan nonformal, pendidikan informal, dan informasi pendidikan.
Agar pemanfaatan TVE dapat terintegrasi dalam program pembelajaran di sekolah, guru perlu merencanakan pemanfaatan siaran TVE dalam program pembelajaran yang dibuat di awal semester dengan mengacu pada program siaran TVE, jika tidak sesuai dengan jadwal pelajaran dapat dijadikan program pengayaan.

Pola pemanfaatan siaran TVE dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu :
1. Pola klasikal, yaitu pemanfaatan siaran TVE secara terpadu dalam kegiatan pembelajaran di kelas, karena sudah sesuai dengan kurikulum yang berlaku.Agar dapat terintegrasi dalam program pembelajaran di sekolah, guru perlu merencanakannya dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).Pemanfaatan klasikal ini dapat juga dibantu dengan LCD untuk tayangan yang lebih baik.
2. Pola Kelompok Kecil, yang dikaitkan dengan tugas kelompok dilakukan oleh siswa dengan bimbingan ddan arahan guru bidang studi. Hal ini dapat juga dilakukan jika ada kesulitan dalam menyesuaikan jadwal pelajaran dan jam tayang.Selesai menyaksikan siaaran, siswa diminta untuk melakukan diskusi dan hasilnya dilaporkan kepada guru.
3. Pola Individual, dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan tayangan TVE. Cara ini bermanfaat untuk pengayaan individual.

Langkah-langkah pemanfaatan siaran TVE dapat dijalankan sebagai berikut :
1. Penyusunan Rancangan pemanfaatan Siaran TVE yang terintegrasi dalam program pembelajaran dengan menyusun RPP yang sudah disesuaikan antara materi pelajaran, media-media yang dibutuhkan, dan jadwal siaran TVE.
2. Kegiatan-kegiatan sebelum mengikuti Siaran TVE, adalah membaca buku bahan penyerta, mengecek kelengkapan peralatan dan mengatur tempat duduk.
3. Selama pelaksanaan harus dipastikan semua siswa mengikuti siaran dengan baik, menjelaskan tujuan pembelajaran dan pokok materi sesuai isi buku penyerta dan menjaga suasana tetap kondusif, memberi pengayaan terhadap tayangan program dan membuat kesimpulan.
4. Selesai menyaksikan tayangan guru mengulas materi yang disaksikan, memberi pertanyaan dan umpan balik, melanjutkan dengan praktikum jika diperlukan, mengerjakan tugas di LKS dan mengajak siswa memperkaya materi melalui sumber belajar lain yang relevan.

TVE juga dapat dimanfaatkan pada jam pelajaran kosong, jika guru berhalangan hadir dengan pantauan dari guru piket atau guru pengganti.Selain itu dapat juga sebagai bentuk penugasan kepada siswa agar siswa dapat lebih mempersiapkan diri dan lebih aktif dalam mengikuti pelajaran yang akan diberikan di dalam kelas, bentuk penugasan dapat dilakukan di sekolah atau dirumah (PR).
Salah satu program instruksional yang disiarkan oleh TVE adalah program pendidikan untuk mempersiapkan ujian nasional untuk siswa kelas III SMP yang direlay secara nasional oleh TVRI, untuk efektifitasnya disediakan juga buku bahan penyerta untuk siswa dan guru. Buku ini memuat 528 topik siaran yang terdiri dari 178 topik matematika, 178 topik bahasa Indonesia, dan 178 topik bahasa Inggris.
Diharapkan,Pemanfaatan TVE dalam Pembelajaran ini dapat membentuk siswa menjadi lebih mandiri, cepat tanggap, lebih konsentrasi dan lebih termotivasi dalam belajar. Sehingga dapat meningkatkan nilai akhir sebagai evaluasi pendidikan, yang akan menjadi tolak ukur dalam meningkatnya mutu pendidikan.

#belajarmenulis.menulisapayangpengenditulis

#sangat.menerima.kritik.&.saran

DAFTAR BACAAN

Miarso, Yusufhadi.(2004). Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, Jakarta: Kencana.

Plomp, Tjeerd. Ely, Donald. (1996). Educational Technology – Encyclopedia (2nd Edition), Cambridge: Cambridge University Press.

Potter, W. James. (2005). Media Literacy: Third Edition, California: Sage Publications, Inc.

Riyana, Cepi. (2007). Pedoman Pengembangan Media Video. Bandung: Program P3AI

Siahaan, Sudirman. (2006). Televisi Pendidikan di Era Global, Jakarta:Pustekkom Depdiknas

Susilana, Rudi. (2003). Media Pembelajaran, Bandung: Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan FIP UPI.

Warsihna, Joko dkk (2007). Pedoman Pemanfaatan Siaran Televisi Edukasi. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan.

sumber bacaan lainnya

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.